cerita inspirasi #2

Nama   :  Fara Irdini Azkia

NRP    :  I14100134

Laskar  :  11

CERITA  INSPIRASI 2

Rasullulah menyebutkan nama ibu sebanyak tiga kali sebagai orang yang harus dihormati sebelum Beliau menyebut nama ayah. Sebegitu mulianya seorang ibu sampai Rasulullah bersabda demikian.

Dalam kacamataku, mama adalah segalanya. Aku dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Juriah binti Takwin. Beliau lahir dan besar di lingkungan polisi yang tegas, disiplin, dan cenderung kolot. Kakek yang seorang Brimob menerapkan sistem militer pada keluarganya, tidak peduli anaknya laki-laki atau perempuan semuanya diperlakukan sama. Tidak ada kata bermalas-malasan.

Mama tipikal orang yang selalu ingin tahu dan keras kepala. Semasa remajanya beliau sering “memberontak” dari aturan-aturan kolot yang diterapkan kakek. Beliau suka sekali berjalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya, berjiwa petualang yang suka tantangan. Sewaktu gadis, beliau tidak percaya kalau waktu di Indonesia itu berbeda-beda antara di Jakarta, Kalimantan dan Irian. “Masa iya sih kalau di Irian waktunya lebih cepat daripada di Jakarta?” ujarnya. Pertanyaan tersebut akan terjawab dan terbukti beberapa tahun kemudian.

Mama bertemu papa ketika beliau baru saja menamatkan Madrasah Aliyahnya. Walaupun hidup dalam satu kampung, mereka jarang bertemu. Karena mama sibuk bekerja membantu orangtua sedangkan papa seorang kutu buku yang jarang keluar dari rumah. Mereka baru benar-benar ngeh satu sama lain ketika papa keluar dari “sarang”nya ketika sudah diterima di salah satu universitas negeri ternama. Kisah cinta mereka pun berlabuh di pelaminan.

Kehidupan yang masih serba susah membuat orangtuaku harus pintar-pintar membuat usaha demi menghidupi keluarga. Selagi menunggu hasil tes PNS, papa mencoba membuat usaha percetakan. Dibantu oleh mama dan saudara-saudara lainnya, usaha tersebut terbilang cukup menjanjikan. Mama sangat cermat dalam urusan keuangan, beliau pintar mengatur keluar masuknya uang. Walaupun hanya tamatan Madrasah, tapi otak bisnisnya jalan. Usaha tersebut lalu dihentikan ketika papa diterima sebagai pegawai negeri dan ditugaskan di Irian Jaya.

Pertanyaan mama sewaktu gadis tentang perbedaan waktu terjawab sudah. Allah menuntunnya langsung ke Irian untuk melihat dan membuktikannya sendiri dengan 8 tahun menetap di Irian. Mama bahkan hamil aku ketika berada di Irian, walaupun melahirkannya sendiri di Jakarta bukan di Irian. Aku melewati masa kecil di Irian tapi jangan tanya bagaimana rasanya tinggal disana karena aku belum sadar hidup ketika itu.

Tahun 1998, papa kembali dipindah tugaskan ke Samarinda, Kalimantan Timur. Kami sekeluarga ikut pindah kesana. Mama melihat di Samarinda peluang bisnis masih terbuka lebar. Beliau lalu memulai bisnis butik pakaian muslim. Beliau sibuk bolak-balik Jakarta-Samarinda untuk mengambil stok baju di pusat grosir terbesar di Indonesia: Tanah Abang. Mama sendiri sudah sangat hafal setiap inci Tanah Abang yang merupakan daerah jajahannya ketika masih gadis dulu.

Karena kesibukannya, aku sudah terbiasa ditinggal-tinggal sedari kecil. Hal ini membuatku dan anak mama lainnya tidak manja. Tapi saat mama pergi, aku selalu merindukan masakannya. Benar kata pepatah “Cinta datangnya dari perut”, aku jatuh cinta pada masakan mama. No doubt about that!

Banyak sekali bisnis sampingan yang dilakukan oleh mama, beliau aktif di dharma wanita dan kegiatan sosial lainnya. Mama terkenal sebagai orang yang sangat humoris dan betawi abis. Sosialisasinya sangat bagus, sering sekali ibu-ibu menanyakan keberadaan mama ketika ia tidak hadir pada acara tertentu. Di rumah pun demikian, mama suka bercanda.  Ibaratnya mama adalah penyambung lidah papa, papa bukan orang yang banyak bicara, kebalikan dari mama yang talkative. Tapi kalau sudah bercanda papa bisa sama ramenya dengan mama.

Aku belum memahami seberapa penting peranan mama dalam kehidupanku waktu itu. Jujur saja aku sering sekali melawan mama. Menggerutu ketika mama menyuruhku ini itu. Aku lebih suka curhat dengan si mbok daripada dengan mama. Mungkin ini pengaruh karena sewaktu kecil aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya daripada mama.

Sampai suatu hari ketika aku SMA kelas 1, mama sedang pergi ke luar kota, menjadi tour guide bagi ibu-ibu dharma wanita yang sedang melancong ke Bandung-Jakarta. Dini hari papa mendapat kabar kalau kakaknya meninggal dunia, papa langsung menelfon mama yang sedang ada di perjalanan. Tanpa diduga mama shock, beliau tidak dapat menerima kematian tanteku yang sudah dianggap sebagai ibu. Seketika tubuh mama tidak dapat digerakkan, lalu mama pingsan. Entahlah aku tidak tahu bagaimana kronologis pastinya. Tahu-tahu aku mendapat kabar kalau mama tak sadarkan diri dan berada di rumah sakit sekarang.

Perasaanku kacau, aku ketakutan, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan mama. Jangan sampai mamaku meninggal juga ya Allah, tak henti aku berdoa kepada Allah untuk tidak mengambil mamaku sekarang. Baru kusadari betapa pentingnya arti seorang mama bagiku. Tanpa mama aku tidak akan seperti ini, tak bisa apa-apa.

Mama terkena stroke ringan, ada katup di jantungnya yang menyempit sehingga perlu operasi peniupan katup jantung. Semenjak itu, gerakan mama tidak bisa selincah dulu lagi. Di awal-awal masa setelah operasi kulihat mamaku sangat lemah dan ringkih, tidak seperti mama yang biasanya. Yang tegar, selalu bergurau dan tertawa. Aku semakin menyanyangi mamaku. Tak pernah lagi aku menggerutu di hadapannya. Aku menjaga benar perkataanku terhadap beliau, jangan sampai membuatnya shock dan membuat penyakit jantungnya kambuh kembali. Mungkin terlambat menyadari betapa berharganya seorang mama bagiku. Tapi aku berusaha untuk membahagiakannya dan membuatnya bangga. Semua prestasi yang kuraih, semuanya termotivasi untuk mama. Aku mungkin bangga dengan yang kuraih tapi tidak ada orang yang lebih bangga kepadaku kecuali mamaku.

Bersyukurlah bagi yang masih memiliki ibu. Jangan sia-siakan kesempatan membahagiakan orangtuamu selagi beliau masih hidup. Ingat, ridho Allah tergantung pada ridhonya seorang ibu. Bahagiakanlah ibumu agar kita memperoleh ridhonya Allah swt.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi #1

Nama   :  Fara Irdini Azkia

NRP    :  I14100134

Laskar :  11

CERITA INSPIRASI 1

Man jadda wa jadda. Sebuah kalimat yang kutemukan saat membaca sebuah novel best seller beberapa bulan yang lalu, tepatnya bulan Januari 2010. Waktu itu, aku sedang mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional. Novel itu menceritakan tentang pengalaman seorang santri di pesantren, tentang bagaimana dia belajar di pesantren dan usahanya dalam mengejar mimpi-mimpinya. Saat membaca novel tersebut, semangatku langsung membara. Aku juga tidak mau kalah, aku harus bisa mengejar mimpiku, menaklukkan rintanganku, ujarku dalam hati.

Ujian Akhir Nasional sedang hangat diperbincangkan waktu itu karena waktu pelaksanaannya dimajukan dari bulan April menjadi bulan Maret. Rintangan pertamaku adalah menaklukkan Ujian Akhir Nasional. Kumantapkan hatiku, kuyakini bahwa aku bisa, kutulis di kertas target-target nilai yang harus kucapai dalam ujian nanti. Kutulis berapa NEM minimal yang harus ku peroleh nanti, tak lupa ku rinci nilai-nilai per mata pelajarannya. Di bawahnya tak lupa ku tulis kalimat saktiku “Man Jadda Wa Jadda”, siapa yang bersungguh sungguh pasti akan berhasil. Ya, aku pasti bisa. Lalu, kutempelkan si “kertas target” di dinding di samping meja belajarku. Sekarang setelah memantapkan hati, yang perlu dilakukan hanya belajar dan berdoa.

Ujian Akhir Nasional hanyalah salah satu dari rintangan yang harus kulewati. Rintangan selanjutnya adalah menaklukkan ujian masuk perguruan tinggi. Aku hanya mau kerja di dua tempat, rumah sakit atau pertelevisian. Target utamaku waktu itu adalah Komunikasi. Bermodalkan ngotot dan tanpa memikirkan mata ujian IPS, aku mengambil ujian IPC. Pontang panting aku belajar mengejar pelajaran di IPS, padahal masih banyak pelajaran IPA yang belum kukuasai benar. Ditambah lagi dengan waktu ujian masuk perguruan tinggi yang kuinginkan hanya beberapa minggu setelah Ujian Akhir Nasional, membuatku tidak fokus mana yang harus diprioritaskan.

Persiapan yang ngebut dan tidak matang membuatku gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi impianku. Gagal dalam ujian masuk PTN membuatku hanya mempunyai satu pilihan terakhir yaitu  SNMPTN. Setelah UAN selesai, aku langsung mengubah targetku menjadi “Harus masuk perguruan tinggi negeri”. Kuteliti dimana letak kesalahanku yang membuat aku dua kali gagal dalam ujian masuk PTN. Teryata masalahnya di pelajaran IPS, aku tidak mampu mengejar materinya. Akhirnya kubuat pilihanku menjadi lebih realistis dan terarah. Aku memutuskan untuk fokus pada pelajaran IPA, dengan resiko aku harus merelakan komunikasi-ku melayang. Ya sudahlah tidak apa-apa. Terkadang yang kita inginkan belum tentu baik kan?

Lalu aku menyusun rencana, aku akan ikut bimbingan di Jakarta. Bukan memandang sebelah mata bimbingan di kotaku, hanya saja menurutku akan lebih baik kalau aku pergi berguru ke tempat lain, membuka wawasan. Sekaligus mengikuti Ujian Masuk bersama dan SNMPTN disana. Setelah acara perpisahan di sekolah, aku langsung berkemas untuk pergi merantau ke Jakarta, Bekasi lebih tepatnya. Orangtuaku mendukung keinginanku. Mama mengantarku dan menemaniku mengurus segala macam tetek bengek disana, sebelum akhirnya kembali ke Samarinda.

Di Bekasi aku tinggal bersama sepupuku dan suaminya beserta ketiga anaknya, dan satu lagi keponakanku, yang semuanya adalah perempuan. Kedatanganku semakin memantapkan rumah tersebut sebagai asrama putri. Jadi silahkan bayangkan sendiri bagaimana riuhnya rumah kami ketika semua perempuan itu berbicara. Alhamdulillah, Allah hanya menciptakan satu mulut pada manusia.

Di Bekasi aku juga belajar hidup mandiri. Jarak dari rumahku ke tempat bimbingan belajarku lumayan jauh. Sebenarnya bisa naik ojek tapi rasanya sayang sekali membuang uang 30 ribu sehari hanya untuk transportasi. Akhirnya aku berusaha menekan harga transportasi dengan naik angkot ketika pulang dari bimbingan belajar. Lumayan, bisa menghemat hingga setengahnya. Walaupun harus tiga kali ngangkot.

Saat mengikuti program intensif bimbel, hanya aku yang belum punya pegangan universitas sama sekali. Ketiga orang temanku yang lain sudah mempunyai pegangan masing-masing. Bahkan salah satu temanku sudah diterima di UI, UGM, Undip, dan Unpad sekaligus, tinggal dia yang memilih mau masuk yang mana. Aku minder sekali waktu itu. Ada perasaan takut, bagaimana kalau SNMPTN gagal lagi? Untungnya guru-guru disana banyak memberiku masukan tentang strategi-strategi SNMPTN dan tips-tips mengerjakan soal yang sangat membantuku.

Salah seorang guruku, Pak Urie namanya, beliau adalah guru fisika. Jujur saja aku tidak suka pekajaran fisika. Makanya aku ogah masuk teknik. Beliau adalah orang yang humoris. Beliau pintar membaca kepribadian orang dan memotivasi. Aku banyak berkonsultasi dengan beliau, kata-katanya simple tapi langsung kena. Membuatku tidak lagi merasa minder karena belum mempunyai pegangan universitas. “Tenang aja Far, yang terbaik itu emang biasanya datang belakangan, hehe.” ujarnya padaku.

Lalu hari SNMPTN pun tiba. Kuyakini dalam hati, aku bisa. Kalimat Man Jadda Wa Jadda pun kembali memenuhi pikiranku. Aku optimis kali ini, persiapanku lebih matang daripada sebelumnya. Kukerjakan soal dengan tenang, kuhitung-hitung berapa kira-kira soal yang harus betul. Sebenarnya sempat panik karena soal IPA-nya susah sekali, hehehe.

Selesai SNMPTN aku kembali ke Samarinda, refreshing otak sekaligus menunggu pengumuman SNMPTN disana. Sebelumnya aku sempat iseng-iseng mendaftarkan diri di Politeknik Jakarta lewat seleksi rapot. Alhamdulilah diterima. Yah paling tidak aku sudah punya pegangan kuliah sekarang.

Perasaan minder kembali menghantuiku saat bertemu dengan teman-teman sepermainanku. Rata-rata mereka sudah lulus PTN lewat jalur mandiri. Tapi roda berputar, Allah memberiku hiburan dengan hasil nilai UAN yang memuaskan. Aku termasuk 5 besar parallel di sekolahku. Ini jauh melampaui apa yang kutulis di kertas targetku. Kulupakan sejenak soal kuliah PTN, ku ikhlaskan saja jika aku memang harus kuliah di Politeknik Jakarta. Mungkin itu memang yang terbaik.

Saat aku sudah mulai melupakan tentang hasil SNMPTN, tidak terasa pengumuman hasil ujian tinggal besok. Aku tidak terlalu semangat untuk mengetahui hasilnya. Sudah pasrah. Pengumuman SNMPTN tanggal 17 Juli, tetapi tanggal 16 pukul 6 sore sudah banyak orang-orang yang mengupdate status lewat situs-situs jejaring sosial. Aku penasaran, masa iya sih sudah pengumuman. Kubuka salah satu accountku. Banyak sekali update tentang hasil SNMPTN. Si ini lulus, si anu lulus, si inu tidak lulus. Tak lama sms masuk, tean-temankku menanyakan hasilku. Kujawab jujur kalau aku belum melihatnya, kebetulan waktu itu modemku belum bayar jadi tidak bisa dipakai.

Lalu aku disururh Mama pergi membeli nanas di pasar. Sebelum pergi kucatat nomor ujianku di handphone. Rencanaku aku akan mampir di warnet untuk mengecek hasil SNMPTN. Penasaran juga lama-lama. Saat pesanan nanasku sedang dikupas, aku pergi ke warnet, pikiranku sudah gak konsen, sampai-sampai motorku menyenggol motor orang saat parkir.

Di warnet aku memilih kursi paling pojok. Kubuka website SNMPTN. Nafasku tertahan. Mulutku tak berhenti melafadzkan bismillah. Lalu kumasukkan nomor ujianku. Kupejamkan mata sejenak, lalu kuucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kuklik tombolnya dan Allahu Akbar! Namaku tercantum disana lulus pada pilihan keduaku di gizi IPB. Walaupun pilihan kedua, sebenarnya itulah pilihan yang kuinginkan. Pilihan pertamaku hanya untuk menyenangkan hati orangtuaku yang ingin anaknya jadi dokter.

Aku refleks menangis haru di warnet. Kurang etis ya tempatnya, haha tapi biarlah. Allah menjawab doaku selama ini. Dia tahu, tapi menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Setelah gagal beberapa kali akhirnya Dia melapangkan jalanku menuju yang terbaik. Aku pulang dengan perasaan girang tak kepalang. Saking senangnya, aku sampai lupa mengambil uang kembalian nanas di pasar! Rezeki ibu penjual nanas hahaha.

Saat pulang, aku tak berhenti cengar-cengir. Mama bertanya “Dapat gak nanasnya?” “Dapat,” sahutku sambil tetap cengar-cengir. “kenapa sih senyum-senyum?” tanya kakakku. “Gak papa, aku cuma lulus IPB.”  Suasana mendadak hening, lalu Mama seolah tak percaya “Yang bener?” “Iya, aku lulus di IPB Ma.” Mama langsung memelukku, ia menangis haru sambil memelukku. “Alhamdulillah, ya Allah”, katanya tak henti-henti. Kakakku meloncat-loncat tak karuan. Aku lalu solat Isya. Aku sujud lama sekali, mengucapkan syukur tiada henti kapada-Nya Yang Maha Baik.

Begitulah cara Allah menjawab doa kita. Dia tahu, hanya saja Dia menunggu. Dia menunggu kita bersungguh-sungguh, mengeluarkan kemampuan yang terbaik yang kita miliki. Man Jadda Wa Jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Tidak ada usaha yang sia-sia, tidak ada doa yang tidak didengar oleh-Nya. Kita hanya diminta untuk bersabar dan terus bertawakal pada-Nya.

Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran dari kisah diatas. Semoga kita selalu menjadi rang-orang yang sabar dan bersyukur atas karunia-Nya. Amin.

Posted in Uncategorized | Leave a comment